Ada ungkapan bijak bahwa “pengetahuan adalah sumber daya terbaik untuk menjadi pemenang” terlebih di era di mana semua orang sudah terhubung dengan internet dan menjalankan bisnis melalui internet tersebut. Pengetahuan inilah yang harus dikelola dan digunakan untuk membantu manusia sehingga kehidupan menjadi lebih mudah.
Namun, yang menjadi ironi adalah banyaknya pengetahuan tersebut menjadikan manusia mencari cara untuk melakukan banyak efisiensi kerja. Sebagian kerja manusia lantas digantikan oleh mesin. Manusia berkompetisi dengan mesin yang bisa bekerja cepat dan tanpa lelah.
Jack Ma, bos dari Alibaba, mengatakan ada 2 hal yang bisa membuat manusia selalu unggul dari mesin yaitu kreativitas dan kemampuan kolaborasi. Robot tidak bisa membuat produk di luar sistem yang ditanamkan padanya, namun manusia memiliki kreatifitas yang berpusat pada imajinasi tanpa batas. Produk kreativitas manusia bukan hanya membuat kehidupan lebih mudah, namun juga lebih indah.

Kreativitas adalah Modal Terpenting dalam Industri Kreatif
Kita lihat di sekitar kita. Barang-barang yang kita gunakan dan perlukan sehari-hari tidak lepas dari ilmu pengetahuan dan kreativitas. Mulai dari sikat gigi, sabun, cermin, pulpen, meja dan kursi, peralatan rumah tangga, peralatan tukang, buku, rak buku, lemari buku hingga lemari pakaikan, dan sebagainya.
Ambil contoh adalah multitool koleksi saya ini. Dari desain, jenis material, pilihan warna, dimensi dan berat tidak bisa dihindarkan dari sekedar fungsinya saja namun juga sisi keindahannya.

Multitools adalah contoh sederhana bagaimana kreativitas membantu manusia membuat alat yang memiliki banyak fungsi namun diletakkan dalam satu genggaman, mulai dari pisau, gerinda, gergaji, gunting, obeng plus, obeng minus, pembuka tutup botol, jarum, tusuk gigi, dan lainnya.
Rancangan multitools di atas bisa didesain melalui gambar. Seiring perkembangan teknologi komputer, rancangannya didesain di komputer. Setelah layak baru diserahkan ke bagian produksi.
Lantas, bagaimana jika desainer harus merancang produk yang lebih rumit dari multitools tersebut semisal merancang bangunan bertingkat lengkap dengan asesoris furniture, warna, taman, tempat parkir dan sistem keamanannya? Jawabnya, desainer harus membutuhkan perangkat yang lebih canggih lagi.
Jika kemudian klien dari desainer menginginkan produk rancang bangun yang nyata mendekati aslinya, tentunya yang dibutuhkan desainer bukan sebatas komputer yang mampu mengolah gambar secara halus dan video gambar tidak patah-patah, namun juga tampilan dari gambar desain mendekati aslinya.
Nah, disinilah pentingnya perangkat komputer atau laptop untuk mewadahi kreativitas desainer.

Menembus Batas Imajinasi dengan Perangkat yang Bisa Diandalkan
Dalam webinar sessioon 4 yang diadakan ASUS x IIDN Business Webinar pada 20 Desember 2020, Ilham KS seorang praktisi industri kreatif yang menjadi pemateri menjelaskan bahwa kreativitas kita ditentukan oleh banyak faktor seperti pendidikan, literatur, lingkungan, budaya, teknologi, estetika dan keadaan.
Bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

Perkembangan teknologi, termasuk teknologi digital memberikan ruang sangat luas bagaimana kreativitas diwujudkan. Teknologi digital sekarang ini memungkinkan melakukan simulasi produk atau kondisi seperti kondisi bangunan dengan lalu lintas penghuninya, yang tidak terjadi pada tahun-tahun lampau. Teknologi sekarang ini menjadikan kreativitas manusia bisa melampui batas imajinasi itu sendiri.
Bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

Teknologi menjadi salah satu kunci keberhasilan manusia menuangkan kreativitas sekaligus mendorong kreativitas untuk menjawab kebutuhan manusia. Contohnya adalah produk IKEA yang lahir dari desainer digital. Produk digital yang kita kira itu adalah produk nyata atau sudah dibuat. Ternyata…. oaalaahh...itu hanyalah hasil rekayasa desainer saja 😀 .

Dengan teknologi yang mendukung desainer dalam mengungkapkan kreativitasnya, maka pekerjaan produktif akan lebih ringan, waktu penyelesaiannya lebih cepat dan hasil yang didapatkannya bisa melebihi ekspektasi. Intinya, teknologi digital yaitu komputer menjadi kunci penting dalam menyelesaikan pekerjaan kreatif dengan waktu yang lebih singkat dan sumber daya yang lebih sedikit.

Pertanyaannya adalah teknologi digital seperti apa?
Teknologi Layar yang Nyata dan Memenuhi Harapan
Teknologi digital yang memenuhi harapan dalam industri kreatif adalah yang menghasilkan tampilan layar menyerupai aslinya, tidak beda antara yang terlihat di layar dengan hasil print outnya.
Bayangkan jika kita memproduksi foto, video, sketsa, gambar bahkan animasi yang terlihat di layar sudah oke, eh.. ternyata setelah keluar hasil print hasilnya berbeda jauh. Karenanya perangkat yang mampu menghasilkan warna secara sempurna dan hasil print out yang sama sempurnanya adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.
ASUS ProArt StudioBook yang dirancang bagi desainer dan kalangan profesional memenuhi harapan tersebut di atas dikarenakan layarnya sudah memiliki standar PANTONE. Baca juga: Inilah ProArt laptop ASUS untuk kalangan profesional berstandar Pantone.

Perlu diketahui bahwa PANTONE memiliki sistem standarisasi warna yang menjadi rujukan bagi sebagian besar industri di dunia. Artinya, layar gawai dari ProArt ini menjanjikan visual nyata kepada kalangan profesional bahwa mereka akan menghasilkan produk sesuai dengan tampilan yang diinginkannya di berbagai platform dan perangkat.
Kelebihan lain layar dari ProArt selain adanya standar kalibrasi adalah tingkat reproduksi warna yang tinggi bahkan pada color space DCI-P3 mencapai 97%. DCI-P3 sudah menjadi standar warna yang digunakan pada banyak jenis indutri kreatif seperti fotografi, perfilman dan animasi. Cakupan warna pada DCI-P3 jauh lebih luas dibandingkan sRGB yang saat ini masih digunakan di berbagai gawai kelas konsumen.

Mesin yang Mendukung Rendering Gambar Secara Cepat
Keunggulan layar berstandar PANTONE pada ProArt StudioBook di atas menjadi kurang berarti jika mesin laptop tersebut tidaklah cepat dan tahan lama untuk melakukan proses pengolahan gambar dan merendernya.
Untuk melihat spesifikasi mesin dari seri ProArt StudioBook ini, kita ambil contoh dari ASUS ProArt StudioBook 15 (H500) yang merupakan seri terendah dari seri yang dipasarkan. Prosesor Intel® Core™ i7-9750H Processor 2.6 GHz (12M Cache, up to 4.5 GHz), memori 16GB DDR4, kartu grafis NVIDIA® GeForce® RTX 2060 dan storage 12GB M.2 NVMe™ PCIe® 3.0 x4 SSD. Seri ini dijual dengan harga Rp. 33 juta.
Lalu pada seri tertingginya yakni ASUS ProArt StudioBook One (W590). Prosesor Intel® Core™ i9-9980HK Processor 2.4 GHz (16M Cache, up to 5.0 GHz), memori 64GB DDR4, storage 1TB M.2 NVMe™ PCIe® 3.0 x4 SSD dan kartu grafis NVIDIA® Quadro® RTX 6000 with 24GB GDDR6 VRAM. Seri tertinggi ini dijual dengan harga Rp. 176 juta.
Dari paparan yang diberikan pada webinar ASUSxIIDN ditampilkan kemampuan ProArt dalam melakukan rendering gambar 3D secara mulus, bahkan sangat cepat. Kecepatan rendering ini tentu saja sangat menghemat waktu dari desainer. Dan tentu saja membantu kerja profesional dalam bidang desain. Baca juga: Laptop ROG Zephyrus Laptop Gaming Berprosesor Intel Gen-10.
Desain Ringkas, Sound Berkualitas dan Port Lengkap
Sebagai laptop yang dirancang untuk pekerjaan berat, ProArt di desain ddengan meletakkan seluruh mesinnya di belakang layar sehingga lebih terekspos oleh udara sekitar. Ventilasi udara ekstra dihadirkan dengan membuat mekanisme khusus sehingga case pada layar dapat terbuka. Dari berbagai seri, bobot terberatnya 2.8 kg. Meskipun terhitung cukup berat, desain ProArt terhitung ringkas.

Susunan keyboardnya lebar sehingga memberikan kelegaan saat bekerja. Perlu juga dituliskan bahwa touchscreennya juga berfungsi sebagai layar menu yang membantu kita mengakses ke dalam sistem komputer, seperti layar menu pada sebuah smartphone.

Sebagai laptop yang dipergunakan untuk pekerjaan mobile, port dalam ProArt terhitung sangat lengkap, baik untuk sambungan jaringan nirkabel, USB maupun untuk terhubung dengan layar lainnya. Soundnyapun sangat berkualitas karena buatan Harman/Kardon sehingga menjadikan kita bisa menikmati musik dengan suara berkualitas saat mengerjakan pekerjaan profesional.

Secara keseluruhan, ASUS ProArt StudioBook menjadi laptop yang bisa menjadi pilihan kita sebagai pekerja desain profesional atau pekerjaan kreatif lainnya yang berhubungan dengan gambar, video maupun arsitektur. Ada 5 varian yang bisa menjadi pilihan kita. Salah satunya, saya tuliskan spesifikasinya di bawah ini.
Data dan Spesifikasi ASUS ProArt StudioBook Pro15 (W500) Salah Satu Varian Dari ProArt
Main Spec. | ASUS ProArt StudioBook Pro 15 (W500) |
CPU | Intel® Core™ i7-9750H Processor 2.6 GHz (12M Cache, up to 4.5 GHz) |
Operating System | Windows 10 Pro |
Memory | 16GB DDR4 |
Storage | 1TB M.2 NVMe™ PCIe® 3.0 x4 SSD |
Display | 15.6″ (16:9) IPS UHD (3840 x 2160), 400 nits, 100% Adobe RGB, Pantone® Validated, Anti-glare |
Graphics | NVIDIA® Quadro® RTX 5000 |
Input/Output | 2x USB3.1 Type A (Gen1), 1x USB3.1 Type C (Gen 2) support Display, 1x Microphone-in jack, 1x Headphone-out & Audio-in Combo Jack, 1x RJ45 LAN Jack for LAN insert(10/100/1000), 1x HDMI 2.0 |
Connectivity | Wi-Fi 6 (802.11ax), Bluetooth 5.0 |
Audio | Built-in speaker, Built-in array microphone, Audio by ICEpower®, Sonic Master |
Battery | 76WHrs, 4S1P, 4-cell Li-ion |
Dimension | 36.0(W) x 25.2(D) x 1.89 ~ 2.09 (H) cm |
Weight | 1,98Kg |
Colors | Star Grey |
Price | Rp71.489.000 |
Warranty | 3 tahun garansi global |

Pitutelu adalah blog yang dikelola oleh Arundaya Taufiq, seorang ayah dari 2 orang anak kelas 8. Arundaya Taufiq juga mengelola enviro-pedia.com dan beberapa blog lainnya.