Klinik Asiki Menyalakan Asa di Daerah Pedalaman



Pengobatan di Klinik Asiki

Tiga tahun lalu ada peristiwa yang menyentakkan kita. Peristiwa ini terjadi di pedalaman Papua, tepatnya di suku Asmat,  yaitu ada 71 anak meninggal dunia akibat gizi buruk. Presiden Joko Widodo segera mengirimkan tim teknis untuk turun ke lapangan menyelesaikan masalah gizi buruk dan meminta persoalan ini dibuka ke publik.

Bukan hanya itu saja, 218 anak menderita gizi buruk dan 646 anak lainnya terjangkit penyakit campak. Pemerintah menetapkan di Asmat telah terjadi kejadian luar biasa (KLB) campak.

Setelah ditelisik, ternyata ada 3 persoalan dasar yang memunculkan bencana kesehatan di 23 distrik Kabupaten Asmat ini.

Pertama, gizi buruk pada anak dimana 25,9% mengalami stunting dan 30,3 persen mengalami berat badan kurang.

Kedua, tenaga kesehatan tidak merata ke semua distrik dimana hanya ada 7 dokter yang melayani 13 puskesmas utama dan 3 puskesmas pembantu. Butuh waktu berhari-hari untuk menjangkau ke tempat layanan kesehatan ini.

Ketiga, hanya 20% penduduk Asmat yang sudah menjalani imunisasi dasar.

Kondisi sebuah keluarga di Asmat, Papua, yang menderita gizi buruk.
Sumber berita dari BBC.com

Ketiga masalah kesehatan di atas muncul dikarenakan ada 5 faktor dasar yang saling berhubungan. Lima faktor inilah yang memunculkan bukan hanya faktor kesehatan, namun juga sosial, ekonomi dan politik. Kelima faktor yang mendorong munculnya masalah kesehatan di pedalaman Papua adalah :

  1. Akses transportasi yang tidak merata dan sebagian besar sulit, mahal bahkan tidak ada.
  2. Fasilitas air bersih dan sanitasi yang kurang layak.
  3. Pola asuh anak dan pola hidup yang kurang sehat.
  4. Infrastruktur informasi yang tidak memadai sehingga menjadikan kurangnya akses informasi.
  5. Ketersediaan pangan yang kurang.

Artinya, masalah kesehatan di Papua, terlebih di daerah pedalaman, dibingkai oleh banyak persoalan yang kompleks dan dalam. Karenanya, masalah gizi buruk di Asmat hanyalah puncak gunung es yang terliput secara nasional dan menjadi perhatian publik atas persoalan kesehatan yang dihadapi penduduk Papua. Persoalanan ini sudah terjadi berpuluh-puluh tahun.

Tidak menutup kemungkinan daerah-daerah lain di Papua yang memiliki indeks kesehatan rendah akan mengalami kondisi yang sama seperti Puncak Jaya, Paniai, Waropen, Yahukimo, Mamberamo Tengah, Mamberamo Raya, Supiori, Pegunungan Bintang,  dan Yalimo. Baca juga: Desa wisata alam Taman Rengganis, Berdiri Di Atas Hamparan Batu Raksasa.

Cara yang perlu ditempuh untuk mengatasi masalah kesehatan di atas adalah:

Pertama, membuka keterisolasiran dengan membangun infrastruktur.

Kedua, meningkatkan kapasitas pemerintah daerah mulau dari perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian program pembangunan.

Ketiga, meningkatkan jumlah tenaga medis dan puskesmas.

Keempat, meningkatkan ketahanan pangan dengan basis pola hidup masyarakat.

Kunjungan Presiden Jokowi ke kota Agats, Kabupaten Asmat, Papua pada 24 April 2018. Sumber foto Sekretariat Kabinet.

Peran Korindo

Di tengah kondisi kesehatan di Papua seperti di atas dalam kurun waktu yang lama, sebuah perusahaan yang bergerak bidang hardwood,juga merambah ke bidang plywood / veneer, produksi kertas koran, hutan tanaman industri dan kelapa sawit hadir memberikan solusi kesehatan dengan cara yang komprehensif.

Korindo  yang didirikan tahun  1969 dan 100% perusahaan Indonesia ini memiliki visi meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui program-program pengembangan sosial yang sistematis dan berkelanjutan.

Korindo memilii kantor pusat di Jakarta. Pada tahun 1993 mengembangkan usahanya di Papua. Korindo memiliki program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dibangun di atas 5 pilar yaitu:

  • Pilar Pendidikan dengan membangun banyak sekolah, menyediakan sarana bus, memberikan bantuan kepada guru, beasiswa dan fasilitas Balai Latihan Kerja (BLK)
  • Pilar Kesehatan dengan membangun klinik Asiki yang menyediakan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat
  • Pilar Ekonomi dengan membangun investasi kondusif, mengembangkan industri ramah lingkungan bidang perkebunan kelapa sawit dan kehutanan.
  • Pilar Lingkungan dengan melakukan berbagai penghijauan dan melaksanakan proses berkelanjutan dan bisnis dan program corporate social responsibility.
  • Pilar Infrastruktur menyediakan sarana air bersih, listrik, fasilitas pendidikan, pasar, balai pengobatan, jembatan, jalan dan sarana pemukiman.
Klinik Asiki yang memberikan asa dalam peningkatan kualitas kesehatan di Boven Digoel. Sumber gambar: Korindo.

Kita bisa melihat keselarasan dari kelima pilar tersebut dengan solusi komprehensif untuk mengatasi persoalan kesehatan di daerah pedalaman seperti di Boven Digoel, Papua.

Lima Pilar Korindo. Sumber: Korindo

Kondisi Kesehatan di Boven Digoel

Kabupaten Boven Digoel dibentuk tahun 25 Oktober 2002 sebagai hasil pemekaran kabupaten Merauke. Data sensus penduduk tahun 2018 di kabupaten dengan luas 10.000 hektar ini menyebutkan jumlah penduduk kabupaten yang berada di ujung timur Papua ini berjumlah 67.717 jiwa.

Boven Digoel beriklim panas dengan suhu rata-rata 26 derajat – 27 derajat celcius. Berada di ketinggian 25m- 100m, Bovel Digoel memiliki banyak rawa dan berhutan lebat. Karena sarana kesehatan yang minim, banyak penyakit menular sering berjangkit.

Data pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) Boven Digoel tahun 2016 menyebutkan jumlah kematian bayi dengan usia di bawah 1 tahun mencapai 115 bayi perseribu dan kematian bayi dengan umur di bawah 28 hari mencapai 54 bayi. Dengan data ini, jumlah kematian bayi di Boven Digoel menempati peringkat pertama dan ketujuh dari seluruh propinsi di Indonesia. Kondisi ini dimungkinkan karena jumlah kunjungan ibu hamil ke puskesmas hanya 22 persen, jauh di bawah angka nasional yang mencapai 87 persen.

Menihilkan Kematian Ibu Hamil, Ibu Melahirkan dan Bayi

Kondisi kesehatan di daerah pedalaman seperti Boven Digoel, tentu saja membuat perih dada. Fakta yang menyuratkan ketimpangan dalam tingkat kualitas kesehatan juga keselamatan jiwa.

“Hampir 30 tahun, saya melihat penduduk meninggal tanpa sebab. Hal ini tidak akan terjadi seandainya ada rumah sakit di dekat sini” ungkapan warga ke Myong-sun Cho, professor di Vision College of Jeonju, Korea Selatan.

Selama dua tahun mengunjungi Papua, Myong-sun Cho mengambi kesimpulan bahwa taraf kesehatan masyarakat akan meningkat jika otoritas pemerintah memberikan perhatian tehadap hak kesehatan warga dan bekerja sama dengan pihak lain, seperti perusahaan swasta.

Dikarenakan Kesehatan Baik untuk Semua, Korindo melakukan aksi nyata untuk menihilkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan bayi melalui Klinik Asiki yang dibuatnya. Klinik Asiki berada di desa Asiki, distrik Jair, Boven Digoel, Papua.

Dalam perjalanannya, Klinik Asiki ini berhasil mendapatkan penghargaan sebagai  klinik terbaik tingkat propinsi Papua sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) oleh BPJS Kesehatan.

Video yang menjelaskan prestasi dan program kesehatan dari klinik Asiki.
Sumber: Youtube Korindo

Program gratis sebagai wujud komitmen Korindo dalam memberikan pelayanan kesehatan ini dilakukan dengan cara:

  • Menjemput ibu hamil yang akan melahirkan sehingga bisa melahirkan dengan prosedur medis yang tepat.
  • Tim medis turun langsung ke lapangan menangani ibu hamil yang akan melahirkan
  • Melalui program mobile service, tim dokter bekerja sama dengan puskesmas setempat memberikan penyuluhan kesehatan hingga ke pelosok-pelosok.
  • Memberikan pelayanan kesehatan melalui pelayanan poli umum, poli gigi, laboratorium yang memadai, serta penyuluhan kesehatan dan perbaikan status gizi masyarakat.
  • Imunisasi gratis secara langsung.

Lebih Jauh Program Klinik Asiki

Sekarang kita menengok program-program Klinik Asiki yang sudah dijalankan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Bovel Digoel, termasuk menurunkan angka kematian bayi, ibu hamil dan ibu yang melahirkan.

Ada 8 program prioritas yaitu:

  1. Meningkatkan layanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu menyusui dan balita, menggugah terbentuknya keluarga berencana dan meningkatkan status gizi keluarga. Dengan target adanya penurunan bahkan menihilkan kematian bagi ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi yang baru lahir.
  2. Mengendalian terhadap penyakit menular, termasuk juga penyakit tidak menular, sekaligus peningkatan kesehatan lingkungan.
  3. Mengembangkan sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JSN) untuk semua keluarga.
  4. Memberdayakan masyarakat
  5. Menanggulangi terjadinya krisis kesehatan, dan lebih jauh terjadinya bencana kesehatan.
  6. Meningkatkan pelayanan kesehatan primer.
  7. Memperbaiki lingkungan kerja yang nyaman dan aman. Dengan kondisi lingkungan kondusif maka akan menstimulasi terjadi peningkatan kualitas kesehatan,
  8. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang profesional di dalam pelayanan kesehatan, termasuk juga memberikan penyuluhan kesehatan.
Klinik Asiki sebagai klinik terbaik yang memberikan layanan dan fasilitas kesehatan yang lengkap secara gratis. Foto; Korindo.

Asa yang Terus Dinyalakan

Dari ufuk timur tepian batas negara Indonesia, Klinik Asiki memberi asa dan mewujudkannya dengan program-program yang nyata untuk mengurai masalah kesehatan di Papua selama puluhan tahun.

Tidak mudah memang karya yang berhasil ditorehkan. Karya yang diwujudkan dari kerangka besar dengan 5 pilar Korindo. Lima pilar ini senafas dengan program pemerintah yang meneropong bahwa masalah kesehatan di Papua tidaklah berdiri sendiri, namun memiliki keterkaitan dengan masalah lain yang pelik dan dalam.

Serumit dan seberat apapun persoalan kesehatan di daerah pedalaman, tertinggal, terdepan dan terluar, Klinik Asiki bisa menjadi cerminan bahwa kesehatan adalah untuk semua. Asa yang terus-menerus dinyalakan untuk sesama.

Rujukan Tulisan

Tulisan dalam blog ini mengambil rujukan dari:

  • Korindonews.com
  • Kolom.tempo.co/read/1055762/tantangan-masalah-kesehatan-papua
  • Korindonews.com/asiki-clinic-manages-to-reduce-maternal-and-child-mortality-rate-in-boven-digoel
  • Thejakartapost.com/adv/2020/07/21/good-health-for-all.html
  • Korindo CSR Report 2017, Continuously Working For Better Society
  • id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Boven_Digoel
  • bbc.com/indonesia/indonesia-42646288

6 thoughts on “Klinik Asiki Menyalakan Asa di Daerah Pedalaman”

  1. Ironis ya, kejadian gizi buruk di tanah yang kaya. Semoga peran Korindo benar2 bisa membantu memperbaiki kondisinya.

    1. Pitutelu says:

      Yup, peran swasta seperti Korindo menjadi keharusan untuk mempercepat pembangunan didaerah-daerah pedalaman dan tertinggal ini.

  2. Prasetyo says:

    Papua emang menghadapi banyak masalah yang kompleks dan dalam. Kesenjangan ekonomi dengan pulau lain memunculkan ketidakpuasan. Muncullah gerakan bersenjata. Kasihan adalah para pekerja lapangan yang menjadi sasaran kekerasan.

    1. Pitutelu says:

      Akar masalah yang memunculkan gerakan-gerakan bersenjata harus dikenali dan diselesaikan, baik ekonomi, sosial ataupun meningkatkan kualitas SDMnya termasuk kesehatan.

  3. Hafidz Rivai says:

    Sy pernah bekerja di slh satu perusahaan tambang 20 tahun lalu. Tempatnya eksklusif dan terpisah dari perkampungan. Dari dalam area tempat sy bekerja, sy bs melihat ketimpangan ekonomi yang terjadi. Untuk mengurangi ketimpangan, memang sangat penting adanya program-program CSR. Semakin banyak yang terlibat, mk semakin baik.

    1. Pitutelu says:

      Program CSR menjadi salah satu solusi dari banyak masalah di daerah terbelakang, seperti yang dilakukan Korindo. TKs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post

Green revolution GReat Giant Foods

Komitmen Total Great Giant Foods (GGF) menjadi Perusahaan Berkelanjutan dengan Penerapan Konsep Ekonomi SirkularKomitmen Total Great Giant Foods (GGF) menjadi Perusahaan Berkelanjutan dengan Penerapan Konsep Ekonomi Sirkular



Saya punya pengalaman menemani istri melakukan riset kualitas air sungai Sampean di Kota Bondowoso dan Situbondo. Sungai Sampean ini membentang sejauh 50 km dari pegunungan Bondowoso dan bermuara di kota