Di Puncak Pattirana 81, Melihat Bentang Langit, Mendengar Desau Angin



Pattirana 81_pendaki cewek bloger

Seakan tidak pernah puas, kawasan barat kabupaten Bondowoso menyimpan keindahan alam yang mengundang untuk dikunjungi. Kawasan yang dibentuk oleh deretan dataran tinggi pegunungan Argopuro. Salah satu bagian yang sering saya kunjungi adalah daerah  Pattirana. Meskipun pada kunjungan terakhir, wisata alam ini tidak terurus lagi. Lebih lengkap silahkan baca: Pattirana, Desa Wisata Riwayatmu Dulu.

Melewati Pattirana 28 atau P 28, kaki saya melangkah jauh ke arah barat. Menyusuri lereng bukit yang cukup terjal, hingga mencapai puncak bukit yang sudah berubah fungsi menjadi perkebunan. Puncak bukit yang lebih tinggi dari P 28 inilah yang dinamakan Pattirana 81 atau P 81.

Deretan perbukitan yang terlihat sepanjang menuju Pattirana 81

Solo Hiking

Ada 10 kali saya ke kawasan Pattirana ini. Setengahnya dilakukan sendirian. Solo hiking saya lakukan untuk mengetahui medan terlebih dahulu. Alasan lainnya adalah keleluasaan untuk menentukan kecepatan jalan dan mendapatkan kondisi yang lebih privat ketika berada di alam terbuka.

Jika saya melihat di sosial media lingkungan pegunungan yang riuh dikarenakan banyak pengunjung, bahkan ada foto dan video yang menunjukkan kondisi tenda yang berdempetan, maka ada kesimpulan diri, ” Betapa tidak nyamannya ada di kondisi riuh tersebut“.

Berada di alam bebas adalah kondisi yang amat tepat untuk mendapatkan ketenangan, menikmati alam yang natural, dan waktu yang tepat untuk mengistirahatkan diri. Saya mendapatkan banyak sekali hal baru ketika melakukan solo hiking dan bisa lebih puas melakukan dialog dengan alam.

Ke Pattirana 81 pertama kali saya lakukan solo hiking. Dalam perjalananya saya bertemu 1 atau 3 orang penduduk lokal yang mencari bambu dan membawanya dengan cara di seret dari dataran tinggi.

Ada banyak monyet dan suara burung. Sebagian monyet berlarian di tegalan kebun, sebagian lagi berlompatan dari pohon ke pohon. Pemandangan seperti ini saya dapatkan saat mendekati puncak P 81 dan setelah tiba di atasnya.

Pemandangan tengah hari yang terik di puncak Pattirana 81

Berdua Bareng Bunda

Setelah berbulan solo hiking ke Pattirana 81, terpikir untuk mengajak Bunda Widyanti Yuliandari, emak blogger nan kece. Tawaran bahwa di P 81 terdapat kebun bunga yang indah dan pemandangan alamnya yang sangat bagus, ternyata manjur untuk membawanya ke sana.

Berbekal 2 tongkat gunung, beberapa botol air minum dan kue secukupnya, kamipun berangkat.

Siang itu, udara cukup panas. Makin terasa panas, seiring perjalanan menuju ke puncak P 81. Jika lelah, kami-pun berhenti. Mengambil nafas, minum dan makan cemilan.  

Rasanya menyenangkan, duduk di tengah jalan menanjak, ngobrol ini dan itu, sambil menikmati pemandangan. Tidak ada yang terganggu, karena selama perjalanan, hanya kami berdua yang ada di lokasi itu. Menjelang tiba di puncak, baru ketemu 2 penduduk lokal yang membawa bambu.

Perbedaan mencolok antara solo hiking dengan hiking bareng-bareng adalah saya harus mengatur ritme kecepatan disesuaikan dengan kondisi rombongan. Enaknya sih, ada teman ngobrol selama perjalanan.

Beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan lagi.

Ilalang, Bunga dan Pepaya yang Bercabang

Perubahan yang mencolok dari kondisi alam di perbukitan Pattirana adalah pada tebing dan puncak bukit-bukitnya berubah menjadi perkebunan seperti pisang. Pada area yang tidak tergarap tumbuh ilalang.

Ada pula area yang tumbuh bunga berwarna kuning. Bagi saya, keberadaan kebun bunga ini memberi kesan berarti. Bayangkan, di bawah naungan langit membiru, ada bunga bermekaran di area yang cukup luas.

Ada pula bebera pohon pepaya tumbuh menjulang. Uniknya, pohon pepaya ini bercabang-cabang.

Hal yang menarik lain, dari tegalan kebun, terdapat batuan-batuan cukup besar. Keberadaan batuan, bahkan yang berukuran besar, menjadi hal yang umum di daerah Bondowoso ini.

Di Pattirana ada batuan besar bertumpuk yang berada di dekat lokasi Pattirana 28, lebih dekat dari arah pintu masuk.

Desau Angin

Topografi Pattirana yang berbukit-bukit memanjang memungkinkan angin gunung yang melaluinya seperti masuk ke lorong. Sering terdengar suara angin seperti suara siulan di tengah angin yang menggerakkan daun pohon dan bambu.

Angin yang berhembus cukup kencang lebih terasa di puncak Pattirana dibandingkan di bagian bawah. Di kondisi siang yang terik, hembusan angin ini memberikan kesejukan, namun segera berganti udara panas, setelah hembusannya berlalu.

Kondisi perbukitan di kawasan Patirana. Angin gunung berhembus melewati celah-celah deretan bukit-bukit tersebut.

Berdua di puncak Pattirana 81, kami mendapatkan suasana yang sepi. Ada pondok yang berisi sebuah dipan untuk istirahat. Atap pondok ini sebagiannya sudah hancur.

Saya membentangkan alas berwarna merah di luar pondok itu. Kami mengeluarkan perbekalan, minum dan makan. Menikmati sejenak keindahan alam setelah melakukan perjalanan mendaki 2 jam dari pintu masuk Pattirana. Baca juga: Menyusuri sungai di lembah gunung Piramid Bondowoso.

Pondok tempat istirahat dan berteduh berada di puncak Pattirana 81. Dari tempat ini kita bisa melihat kota Bondowoso dan pegunungan Ijen di arah timur. Lokasi ini menjadi salah satu lokasi terbaik melihat matahari terbit.

Bentang Langit

Dan tentu saja ketika kita berada di puncak dataran tinggi, baik bukit apalagi gunung, pemandangan yang paling dinantikan adalah langit. Ya, langit dengan dinamika awan dan mataharinya.

Saat di puncak, sepertinya, tidak ada halangan lagi bagi kita untuk menyapa langit, merasakan ke-mahaluas-an Sang Pencipta, meresapi keluasan alam dengan langit yang membentang dari seluruh penjuru. Dan memaknai lagi betapa kerdilnya kita di alam raya ini. Dan mensyukuri semua yang sekarang ini dimiliki.

Intinya adalah betapa indahnya alam ketika kita tidak berjarak lagi darinya. Untuk itulah pentingya menjelajah alam, meskipun itu berada di dekat tempat tinggal kita. Seperti Pattirana 81 ini yang berjarak hanya 30 menit berkendara motor dari rumah.

Pesona Pattirana 81 adalah pemandangan alamnya yang indah dan sebagian besarnya masih alami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post