Batu Bara untuk Energi Indonesia

  • by
batu bara untuk energi indonesia

Kondisi kebutuhan energi sekarang menggambarkan permintaan energi yang terus meningkat. Proyeksi yang dilakukan Badan Energi Dunia (International Energy Agency/IEA) menyimpulkan bahwa peningkatan permintaan energi dunia sebesar 1,6% per tahun atau 45% hingga 2030. Dari total kebutuhan energi tersebut, permintaan bahan bakar fosil, terutama bahan bakar minyak (BBM)  mencapai 80 %.

Berkaitan dengan kebutuhan bahan bakar minyak tersebut, sayangnya, Indonesia meskipun dianugerahi banyak sekali sumber energi telah menjadi negara pengimpor minyak (net-importing country). Contoh sumber energi baik energi terbarukan maupun energi baru adalah biofuel, panas bumi, shale gas, tenaga surya, coal bed metane (CBM), dan batu bara. Idealnya, pasokan energi nasional didasarkan dari sumber daya energi yang dimiliki sendiri.

Untuk batu bara sendiri, pemerintah menargetkan batu bara bisa memberi kontribusi bauran energi nasional sebesar 30,7% pada tahun 2025. Setelah batu bara, energi baru dan terbarukan (EBT) seperti energi angin, energi matahari, biogas, biomassa, biofuels, energi angin dan energi air, gravitasi dan geothermal menyumbang 25,9% dan gas 19,7%.

batu bara sebagai sumber energi pengganti minyak bumi
Batu bara menjadi sumber energi yang bisa menggantikan minyak bumi. Credit; Pixabay

Kontribusi Batu Bara

Di tingkat dunia, Indonesia berada di peringkat 5 produsen batu bara. Cadangan batu bara di Indonesia mencapai 60 milyar ton yang mana 85% nya adalah batu bara muda (lignit). Batu bara muda ini memiliki kandungan air sebanyak 30% dan kandungan kalori rendah. Artinya, batu bara di Indonesia memiliki sebagian besar berkualitas rendah. Ironisnya, batu bara berkualitas tinggi atau black coal di ekspor ke luar negeri.

Data pada tahun 2010 menyebutkan produksi batu bara mencapai 275 juta ton, dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Sedangkan konsumsi dalam negeri hanya 70 juta ton dengan pemakaian sebanyak 50% untuk pembangkit listrik. Sisanya, sebanyak 80% diekspor. Ekspor batu baru dalam jumlah besar ini yang perlu dipikirkan ulang dikarenakan  sumber daya energi ini bisa lebih diotimalkan untuk penggunaan dalam negeri. Indonesia bisa meniru negara Tirai Bambu yang menjadi produsen batu bara nomor satu di dunia namun tidak pernah mengekspornya.

Strategi optimalisasi penggunaan batu bara untuk konsumsi dalam negeri dan meninggalkan ekspor raw material batu bara didasarkan pada kebutuhan pasokan energi yang besar di dalam negeri. Selesainya proyek PLTU 10.000 MW membutuhkan batu bara dalam jumlah besar dan berkesinambungan.

Pemanfaatan Batu Bara

Bukan hanya untuk keperluan pembangkit listrik saja, batu bara memiliki peran sebagai sumber energi penggerak dalam banyak bidang industri seperti:

1. Menjadikan batu bara menjadi bahan bakar cair dan bahan bakar gas

Batu bara berbentuk padat dapat diubah menjadi cair yang dikenal dengan liquifikasi  (Coal to Liquefaction/CTL).  dan berbentuk gas yang dikenal dengan gasifikasi (Coal to Gasification/CTG). Perubahan bentu batu bara menjadi cair dan gas ini menjadikan fungsi batu bara sebagai sumber energi menjadi sangat luas dan menjangkau hingga kebutuhan sehari-hari masyarakat, selain untuk industri. Dari 30.000 ton batu bara, maka bisa dikonversi menjadi 130,000 barel minyak perhari.

2. Sebagai sumber energi industri baja

Produksi baja membutuhkan karbon dan besi dimana karbon dari batu bara berperan menghasilkan panas sangat tinggiyang akan memanaskan besi menjadi baja.

3. Sebagai bahan bakar  dalam industri alumunium

Alumunium merupakan hasil sampingan dari dari proses oksidasi besi saat pembuatan baja. Panas kokas dan gas dari batubara akan memisahkan beberapa produk baja, dari sinilah alumunium dihasilkan. Alumunium ini menjadi material unggulan yang banyak digunakan masyarakat seperti peralatan dapur hingga industri.

4. Sebagai bahan bakar pada industri semen

Semen dibuat dari campuran oksida besi, silica, oksida aluminum dan kalsium karbonat. Proses pembuatannya membutuhkan suhu hingga 1500 derajat Celcius. Batu bara mampu menghasilkan suhu yang tinggi tersebut.

5. Menghasilkan tar batubara

Residu yang dihasilkan dari penyulingan batu bara berupa cairan berwarna hitam pekat yang dikenal dengan tar batu bara. Material ini memiliki banyak sekali manfaat seperto bahan membuat cat, sabun, shampoo, kain, digunakan sebagai isolator bangunan sehingga tahan rembesan air.

6. Sebagai bahan bakar sintetik

Potensi batu bara diolah menjadi BBM sintetik.

Pengembangan Batu Bara Cair

Batu bara cair memiliki kandungan energi hampir setara dengan yang dihasilkan minyak bumi. Batu bara ini memiliki potensi besar untuk menggantikan minyak bumi, apalagi  diproyeksikan cadangan minyak bumi dunia hanya cukuk untuk 40 tahun saja. Cadangan batu bara dunia cukup untuk 150 tahun.

Sayangnya, kondisi batu bara umumnya tidak berkualitas dikarenakan banyaknya kandungan air seperti brown coal dan sub-bituminous coal. Karenanya dicari teknologi untuk mengubah material ini menjadi produk yang bermanfaat sebagai bahan bakar sekaligus ramah lingkungan.

Cara yang dilakukan dengan memisahkan air dari batu bara dan pencairan dengan meningkatkan hasil produksi minyak menggunakan katalisator. Selanjutnya melalui proses hidrogenasi untuk memisahkan heteroatom dari minyak batu bara cair sehingga diperoleh bahan bakar bermutu tinggi.

Ada dua cara mengubah batu bara menjadi bahan bakar cair bermutu tinggi yakni batu bara dilarutkan pada tekanan dan temperatur tinggi (direct lequefaction) dan batu bara digasifikasi untuk menghaslkan syngas yaitu campuran karbon monooksida dengan hidrogen (indirect liquefaction). Syngas lalu dikondensasi menggunakan katalis sehingga diperoleh bahan bakar berkualitas tinggi.

Melalui kedua cara tersebut diperoleh minyak ultra-bersih, lilin sintetis, diesel, pelumas, baha baku kimia dan metanol serta dimethyl ether. Artinya bahwa, batu bara memberi pilihan terbaik menghasilkan bahan bakar pengganti minyak bumi.

Pengembangan batu bara cair di atas didukung oleh pemerintah melalui Inpres no. 2/2006 mengenai batu bara yang dicairkan.

Yang Harus Diperhatikan dalam Pengembangan Batu Bara Cair

Efek dari pembuatan pabrik batu bara cair skala besar dengan area yang tersebar luas adalah peningkatan penambangan batu bara. Sudah pasti ada dampak negatif terhadap lingkungan seperti adanya limbah beracun dan asam yang memperburuk air tanah. Dampaknya pada masyarakat dan lingkungan sekitar area pertambangan.

Produksi batu bara cair ternyata tidak efisien dikarenakan membutuhkan energi dan batu bara dalam jumlah besar. Dari 1 ton batu bara ternyata hanya menghasilkan 2 barel bensin.

Dampak dari sifat batu bara yang kotor, konversi yang tidak efisien dan kebutuhan energi yang besar menyebabkan emisi gas penyumbang pemanasan global dari proses produksinya sangat besar. Pabrik batu bara cair menghasilkan  gas rumah kaca lebih besar 4% – 8% lebih tinggi dibandingkan bensin. Baca juga: Dampak pemanasan global bagi sektor kelautan.

Efek konversi batu bara adalah gas rumah kaca
Efek konversi batu bara adalah gas rumah kaca yang harus dicari solusi teknologinya. Credit:Pixabay

Sebagian ahli berpendapat bahwa batu bara cair bebas sulfur sehingga bisa dikategorikan sebagai ‘bersih’. Berbeda dengan pendapat ini, batu bara cair setelah digunakan sebagai bahan bakar transportasi akan menghasilkan 2 jenis aliran karbondioksida, yang merupakan gas rumah kaca. Aliran karbondioksida penyebab pemanasan global ini berasal dari pabrik konversi batu bara dan gas buang dari kendaraan transportasi.

Kondisi inilah yang harus dicari solusinya mengingat potensi batu bara yang sedemikian besar untuk menggantikan minyak bumi. Tentunya solusi yang berpijak pada produk energi yang ramah lingkungan.

Usulan Agenda Kebijakan dan Regulasi Pemerintah

Untuk mengembangkan batu bara sebagai salah satu pilihan potensial mengganti minyak bumi dan penyulai energi secara nasional, diperlukan kebijakan dan langkah yang terintegrasi serta komprehensi, baik dari sisi regulasi  dan ketersediaan teknologi serta SDM.

Contohnya soal regulasi. Jangan sampai terjadi regulasi yang menyebabkan tumpang tindih baik kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah maupun pengelolaan mulai dari hutan lindung, lisensi, pengawasan produksi, Domestic Market Obligation  (DMO), kepastian investasi dan eksport.

Regulasi yang dibuat dan kebijakan yang ditempuh mendukung pengembangan dan pemanfaatan energi batu bara di Indonesia. Kabijakan yang dibuat haruslah menguraikan secara detail mengenai konversi, penggunaan langsung dan upgrading.

Pemerintah juga memberikan kepastian mengenai infrastruktur pendukung seperti pelabuhan, kapal,kereta api dan jalan raya.

Pemerintah juga memberikan kemudahan dalam pembelian, pemanfaatan dan pengembangan teknologi pengolahan batu bara sehingga bisa menghasilkan produk energi yang lebih bersih, berkualitas dan ramah lingkungan. Baca juga: Cara mengolah makanan yang ramah lingkungan.

Supaya agenda pemanfaatan batu bara lebih optimal dan fokus, maka perlu dipertimbangkan adanya kelembagaan khusus yang menangani produksi hal ini seperti produksi batu bara cair. Kelembagaan khusus ini bisa diserahkan kepada BUMN.

Sebagai contoh dalam pemanfaatan batubara. Beberapa jenis teknologi yang dibutuhkan seperti teknologi pemanfaatan langsung untuk industri dan listrik, teknologi konversi BBM, kokak, BBG dan upgrading dari dari low rank menjadi high rank seperti geo coal dan steam tub dryer, teknologi coal water mixture (CWM), termasuk juga teknologi proses sasol.

Terakhir adalah perlunya insentif fiskal dan perlindungan bagi pelaku usaha termasuk komunitas masyarakat yang berada di sekitar area pertambangan batu bara. Jangan sampai upaya pengembangan batu bara sebagai motor terbaru energi nasional membawa korban ketimpangan masyarakat dan alih fungsi lahan tanpa ada desain untuk menyelamatkan lingkungan juga.

Insentif fiskal diperlukan selain untuk pengembangan teknologi juga meningkatkan kapasitas alih teknologi bagi dunia usaha dan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *