Komitmen Total Great Giant Foods (GGF) menjadi Perusahaan Berkelanjutan dengan Penerapan Konsep Ekonomi Sirkular



Green revolution GReat Giant Foods

Saya punya pengalaman menemani istri melakukan riset kualitas air sungai Sampean di Kota Bondowoso dan Situbondo. Sungai Sampean ini membentang sejauh 50 km dari pegunungan Bondowoso dan bermuara di kota Situbondo.

Sebagai kota kecil dengan sedikit sekali keberadaan pabrik, saya menduga kualitas air Sungai Sampean pastilah cukup baik. Tidak ada pabrik besar di sini. Bahkan pabrik ukuran sedang bisa dihitung dengan jari. Namun, apa daya hasil penelitian kami ini membuktikan hal yang sebaliknya.

Penelitian kualitas air sungai yang kami lakukan berpijak pada keberadaan makhluk makro invertebrata. Jika sebuah sungai masih memiliki makhluk ini, maka sungainya terhitung baik. Dibeberapa lokasi, terutama yang dekat dengan home industri dan sebuah pabrik kertas, kami tidak menemukan sama sekali makhluk invertebrata tersebut. Home industri seperti pabrik tahu dan pabrik kertas meskipun hanya sebuah saja sudah cukup memberi akibat dahsyat ke makhluk hidup sungai ketika mereka membuang limbahnya langsung ke sungai.

Apalah daya ketika kami menyusuri titik-titik sampling dari hulu hingga hilir, kenyataan pahit kami lihat. Sampah ada dimana-mana pada setiap jembatan sungai. Home industri yang lain, juga membuang limbahnya ke sungai. Bondowoso dan Situbondo adalah kota kecil, bukan kota industri, namun memiliki sungai yang terancam, tidak jauh berbeda dengan sungai yang berada di kota besar, seperti sungai Ciliwung. Masyarakat dan industri  menjadi penyebab kerusakan lingkungan sungai ini.

Tidak ada tempat di Bumi terbebas dari sampah. Gambar dari Pixabay.

Berawal dari Pemahaman yang Salah

Mengapa kerusakan alam, bukan hanya sungai terjadi dan seolah menjadi hal yang biasa? Bahkan dengan kemajuan teknologipun yang semakin gempita, seolah menjadi pembenar adanya kerusakan alam itu.

Saya menduga bahwa ada pola pikir salah yang sudah umum dianut yaitu manusia sah-sah saja untuk mengeskploitasi alam, menggunakan sebanyak-banyaknya yang alam berikan untuk hari ini. Sedikit yang kemudian berpikir bahwa kita sekarang ini memiliki tanggung jawab untuk generasi mendatang.

Meng-arus utama-kan Pembangunan Berkelanjutan

Dari penjelasan Bapak Jalal, Co-Foundfer A+ CSR Indonesia, pada webinar Great Giant Foods (GGF) tanggal 13 Agustus 2020, saya mendapatkan pemahaman mengenai sebab musabab di atas dan apa yang harus dilakukan untuk menghindari kerusakan alam bahkan turut melestarikannya.

Kata kuncinya adakah ke-berlanjutan atau sustainability. Ketidakberlanjutan dalam proses pembangunan, proses industri, termasuk juga pertanian akan mempercepat terlampauinya daya dukung bumi.

Data mutakhir mengungkapkan bahwa daya dukung bumi terbatas dan manusia terancam kehidupannya. Batas – batas lingkungan yang menjadi toleransi daya dukung telah terlampui. Perubahan iklim adalah salah satu contoh di antara empat batas lingkundan dari sembilan yang ditetapkan para ahli.

Contoh lainnya, pertanian berubah pola menjadi pertanian tidak berkelanjutan. Banyak hutan yang hilang melalui deforestisasi tanpa kontrol. Di dalamnya terdalam biodiversity dan keanekaragaman hayati yang ikutan musnah pula. Peningkatan penggunaan karbon, bahan bakar fosil, penggunaan listrik, dan moda transportasi berujung pada terlampuinya daya dukung bumi sejak awal dekade 1970.

Lalu muncul-lah konsepsi pembangunan berkelanjutan, meskipun konsepsi ini berkembang. Awalnya di tahun 1987 di artikan bahwa pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi harapan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk juga memenuhi kebutuhannya.

Definisi di atas berubah pada tahun 2013 dengan penekanan baru yakni penjaga daya dukung dari bumi yang merupakan dasar dari kesejahteraan generasi sekarang dan generasi mendatang. Manusia tidak mungkin sejahtera jika daya dukung bumi tidak memungkinkan kehidupan di atasnya menjadi sejahtera.

Menjadi persoalan sekaligus tantangan yakni fakta sekarang ini batas-batas lingkungan sudah terlewati sebagai akibat manusia memanfaatkan sumber daya alam kelewat batas. Lantas apa yang harus dilakukan?

Mewujudkan Ekonomi Sirkular

Dalam perkembangannya, model keberlanjutan berkembang dari relasi 3 pilar yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan. Pada tahun 1970an, ketiganya berdiri sendiri. Model tahun 1994 yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan ditimbang bersama-sama dan terjadi irisan dari ketiganya, maka keberlanjutan terjadi. Dan yang mutakhir menempatan ekonomi, sosial dan lingkungan berbeda sama sekali dengan model sebelumnya. Ekonomi menjadi lingkaran terdalam yang dikelilingi oleh lingkaran sosial, dan terakhir lingkaran lingkungan.

Kesepakatan dunia dalam  Sustainable Development Goals (SDG’s) menyatakan bahwa dunia berjanji untuk keberlanjutan bagaimana pada tanggal 31 desember 2030 tidak ada lagi orang miskin, tidak ada ketimpangan gender, tidak ada lagi orang tidak bisa mengakses pendidikan. Karenanya, sektor ekonomi dinisbatkan untuk melayani sosial dan lingkunga melalui jalur kemitraan.

Konsep bisnis berkelanjutan
Konsep bisnis berkelanjutan yang diajukan Nelson, Jenkins dan Gilbert yang banyak dianut oleh perusahaan sekarang ini. Foto dari Webinar GGF.

Pada level industri yaitu perusahan, jalan yang ditempuh untuk mewujudkan SDG’s di atas adalah dengan membangun dengan core bisnis  mulai dari workplace, market place dan supplay chains yang sesuai dengan keberlanjutan. Rentang yang luas dari internal perusahaan hingga pasar selaras padu pada konsepsi jalan keberlanjutan.

Di luar hal di atas terdapat  masyarakat atau komunitas yang harus dibantu oleh perusahaan melalui kegiatan sosial, dan advokasi kebijakan untuk merumuskan kebijakan yang mendukung.

Sayangnya, statistik global tidaklah seindah konsepsi dan harapan kita.Di tahun 2020 hanya 8,6 % yang menerapkan ekonomi sirkular. Angka initurun dibandingkan tahun 2019 sebesar 9,1 %.

Ekonomi Sirkular dalam Perusahaan

Kita patut bersyukur bahwa di Indonesia sejak  3 tahun lampau sudah menguat wacana dan praktik ekonomi sirkular. Bahkan di tahun 2020 ini, pemerintah RI berkomitmen menerapkan atau mengadopsi ekonomi sirkular. Contoh yang sudah dilakukan adalah dibuat aturan pengadaan ramah lingkungan.  Bahkan Indonesia memiliki ICEF yakni forum terbesar mengenai ekonomi sirkular.

Lantas, seperti apa perusahaan yang menganut ekonomi sirkular?. Berikut adalah ciri-cirinya:

  1. Perusahaan memiliki misi untuk mengoptimalkan manfaat atau kesejahteraan bersama untuk seluruh stakeholder. Bukan hanya keuntungan yang dikejar namun lebih mengutamakan keberlanjutan perusahaan.
  2. Perusahaan tidak membuat dampak negatif, melakukan regenerasi lingkungan untuk meningkatkan daya dukung lingkungan, mengembalikan yang rusak menjadi lebih baik lagi.
  3. Perusahaan mengembangkan sistem value yang memastikan bahwa bisnis adalah berkontribusi dalam mendorong kemajuan masyarakat menuju future fit. Dalam hal ini bisnis mengabdi kepentingan masyarakat.
  4. Perusahaan mengupayakan meniadakan sampah dan limbah dari semua lini proses produksi dan distribusinya. Karenanya sistem produksinya diskemakan dengan bahan baku masuk – proses produksi terjadi – dimanfaatkan – di recycle – lalu di produksi lagi.

Lantas, apakah ada perusahaan di Indonesia yang menerapkan ekonomi sirkular ini?

Komitmen Total GGF pada Ekonomi Sirkular

Jujur saja saya baru tahu perusahaan Great Giant Foods (GGF) melalui media massa. Sebagai orang yang tinggal di daerah yaitu di Bondowoso, produk GGF tidaksaya  temukan di sini. Saya menemukan dan mengkonsumsi produk buah GGF ketika berada di Surabaya yaitu di supermarket.

Saya baru memahami betul misi GGF sebagai perusahaan yang berkomitmen pada ekonomi sirkular pada paparan Bapak Arif Fatullah ,Senior Manager Sustainabillity GGF, pada webinar tanggal 13 Agustus 2020.

GGF merupakan eksportir nanas terbesar di dunia yang terintegrasi antara kebun dengan pabriknya. Jika kita berada di luar negeri, dan berbelanja di supermarket untuk membeli nanas kaleng, maka di antara 5 nanas kaleng yang kita temui, 1 di antaranya produksi GGF. Pabrik nanas GGF terintegrasi dengan perkebunan nanasnya.

Selain nanas, GGF juga memayungi beberapajenis bisnis lainnya seperti Great Giant Livestock dengan produksi sapi pedaging dan sapi perah untuk produksi susu. Peternakan sapi perah sapi perah yang dikembangkan di dataran rendah ini adalah wujud nyata dari visi jauh GGF untuk berjalan pada ekonomi sirkular.

Secara singkat ada dua kluster bisnis GGF yaitu di bidang sayuran dan  buah dan satu lagi di bidang daging dan susu.

Produk dari GGF dengan konsep ekonomi sirkular
Semua produk GGF menerapkan konsep ekonomi sirkular. Foto dari Instagram GGF

1. Kluster buah dan sayur, sebagai salah satu pilihan makanan yang sehat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menyeimbangkan makanan yang menimbulkan isu-isu kesehatan.

2. Kluster susu dan daging untuk menyediakan protein

Kedua kluster ini berkaitan erat dalam sistem ekonomi sirkular berkelanjutan yang menjadi misi GGF sejak dibentuk.

Penjelasannya di uraikan di bawah ini.

Misi dan Komitmen GGF

Dari penjelasan Bapak Arif Fatullah, saya mendapatkan pemahaman mengenai komitmen GGF yaitu menjadi perusahaan yang mendeliver produk berkualitas dan menyehatkan kepada sebanyak mungkin masyarakat didunia.

Produk GGF diproduksi dengan proses ramah lingkungan dengan mengedepankan prinsip sustainability dan prinsip inovasi berkelanjutanmulai dari kebun, packaging, dan distribusi.Produk berkualitas tersebut bukan sekedar enak di makan, tetapi juga bermanfaat untuk masyarakat

GGF memercayai bahwa perusahaannya tidak bisa menghasilkan produk-produk berkualitas tanpa bersinergi dengan para pemangku kepentingan. Karenanya GGF membangun bisnisnya tidak sendirian tetapi mengoptimalkan peran serta banyak pihak seperti petani, peternak, komunitas, dan sebagainya..

Untuk mewujudkan komitmet tersebut, GGF ditopang oleh 3 pilar keberlanjutan

1.Great Lives Style

Bagaimana GGF dari sisi bisnis bertanggung jawab untuk menyediakan produk bernutrisi dan mendorong masyarakat untuk hidup lebih sehat, sehingga nantinya bertemu antara makanan yang sehat dengan kebiasaan yang sehat.

2.Great People

Ada aset karyawan GGF yang berjumlah puluhan ribu orang yang menjadi agen/ambassador/duta GGF yang menciptakan produk berkualitas dengan upaya berkelanjutan, training, capacity building. Bukan hanya karyawan, namun  juga masyarakat aau komunitas di sekitar perusahaan di dorong untuk berperan dan berkontribusi di bisnis GGF. Termasuk juga di lingkungan ini adalah pemerintah, media massa, LSM, dlsb.

3.Great World

Di bidang agrikultur tergantung sekali dari alam. Berupaya untuk memelihara alam sehingga manfaatnya bisa dirasakan untuk waktu yang sangat lama.

Desain Sustainability dan Model Ekonomi Sirkular GGF

Falsafah sustainability dan ekonomi  sirkular GGF tidak lepas dari pelajaran para leluhur kita dalam bertani yaitu proses pertanian tidak bisa dilepaskan dari peternakan. Bertani dan berternak.

Nantinya,  kotoran ternak digunakan untuk pupuk. Sebagian hasil panen dikonsumsi dan sebagian diolah menjadi produk turunan lainnya. Namun, tidak membuang limbahnya. Limbah dari produk dijadikan pakan untuk binatang ternak. Sebagian limbah yang tidak bisa dimakan ternak, dikembalikan lagi ke tanah sehingga terjaga kesuburan tanah.

Bayangkan bahwa limbah yang dihasilkan GGF setiap bulan sebanyak 209.402 ton. Jika tidak diolah, limbah sebanyak ini akan menjadi masalah. Maka limbah ini dikelola menjadi opportunity bisnis.

Model Sirkular Limbah Padat

Contoh penerapan model sirkular sebagai berikut.

Dari perkebunan pisang, nanas, jambu, singkong, dlsb, berhenti pada produk fresh. Ada produk turunan darinya. Contohnya nanas. Pada nanas terdapat mahkota, buah, daun dan batang. Pada saat panen, mahkota dikembalikan lagi ke kebun untuk dijadikan bibit. Buah nanas masuk ke pabrik pengalengan. Batang nanas akan diambil dan diproses masuk ke pabrik bromelain enzime yakni enzim untuk melunakkan daging. Daun dikembalikan ke lahan untuk mengembalikan biomassanya.

Sedangkan proses buah nanas akan menghasilkan nanas kaleng, nanas yang masih menempel di kulit dijadian jus dan konsentrat, dijadikan cooktail. Limbah yang dihasilkan yaitu kulit nanas. Kulit nanas ini tidak dibuang.

Kulit nanas ini dimasukkan ke Great Giant Live Stock yang akan dijadikan pakan sapi. Singkong akan masuk ke pabrik tapioka dan akan menghasilkan limbah seperti potongan singkong yang tidak digunakan dan kulitnya, limbah ini dikembalikan ke peternakan sapi untuk dijadikan pakan.

Di peternakan dihasilkan susu dan daging. Limbah yang dihasilkan adalah kotoran sapi. Kotoran ini masuk ke unit komposting dan akan diproses menjadi kompos dan kompos ini kembali ke kebun menjadi pupuk organik.

konsep zero waste cycle GGF
Wujud komitmen GGF untuk meniadakan sampah dalam proses industrinya. Foto dari Instagram GGF

Model  Sirkular  Limbah  Cair

Untuk limbah cair dari pabrik tapioka dan pabrik nanas akan masuk ke reaktor biogas yang akan menghasilkan energi yang akan dimanfaatkan oleh powerplant dan pabrik tapioka. Kemudian ditransfer ke powerplant/pembangkit listrik. Pembangkit listrik ini menjadi sumber energi  pabrik tapioka. Ada limbah cair dari biogas yakni influent, dimasukkan WWT Ponds (fasilitas pengolahan limbah), yang nantinya akan digunakan untuk menyiram tanaman. Sehingga tidakada air yang terbuang.

Dengan pola di atas maka dipastikan bahwa limbah yang ada bisa digunakan kembali dan tidak ada sisa. Contoh, ampas yang dihasilkan dari produksi bromelaine enzim akan masuk ke unit komposting sebagai pupuk organik.

Dari biogas di atas dihasilkan 8,5 juta Nm3 biogas pertahun. Penggunaannya, 6,5 juta Nm3 digunakan untuk powerplant dan 2 juta Nm3 digunakan untuk pabrik tapioka.

Penerapan di Kebun

Diterapkan model sirkular, meskipun dengan proses lebih pendek.

– Biomass daun nanas akan kembali ke kebun

– Ada lahan bambu untuk konservasi sumber daya air.  Banyak varietas bambu.

– Bambu dipakai di kebun pisang sebagai penyangga pohon dan sebagian lagi digunakan masuk ke kompos sebagai campuran kompos. Bambu ini sumber lignin yang akan menjadi asam humus cukup tinggi. Asam humus ini menjadi sumber unsur hara makro dan mikro yang mudah terserap tanaman.

– Ada juga pupuk organik cair dimana mikrobanya diambil dari lahan sendiri. Lalu dibuat pengayaan di pabrik pupuk cair dan akan kembali ke kebun.

Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah Plastik

Limbah anorganik seperti plastik, drum bekas pupuk dan drum pestisida dannetfoam untuk membungkus jambu  tidak dibuang namun dimanfaatkan ulang.

Ada unit recycling. Untuk drum bekas di recycle menjadi plastik angle yg digunakan dalam pengepakan barang. Netfoam direcycling menjadi netfoam kembali untuk pembungkus pisang supaya tidak lecet.

Kolaborasi dengan Pola Kemitraan Closed Loop

Selain limbah di atas, ternyata ada limbah yang harus dikolaborasikan dengan pihak lain melalui pola kemitraan closed loop. Seperti pisang underspek dan sisa cooktail seperti cacahan jambu dan pepaya yang dimanfaatkan untuk :

Pakan ternak  di mitra peternak sapi dan diconnecting dengan kelompok masyarakat yang memproduksi maggot. Maggot ini akan dikembangkan sebagai pakan ayam, ikan dan bebek. Sehingga menguntungkan komunitas binaan GGF. Dengan memproduksi maggot maka peternak sudah bisa memproduksi ikan tanpa harus membeli pelet.

Pisang di connecting dengan beberapa UKM yang memproduksi keripik pisang. Seperti UKM di Lampung.

Ekonomi berkelanjutan yang diterapkan GGF
Ekonomi berkelanjutan yang diterapkan GGF dengan melibatkan kelompok masyarakat perternak sapi. Foto dari instagram GGF.

Pengelolaan Sumber Daya Air

Water reservoar cukup banyak di GGF. Dalam musim penghujan akan menjadi resapan air. Air ditampung, masuk ke dalam tanah sebagai resapan. Di musim kemarau digunakan untuk penyiraman sehingga bisa meminimalisir penggunaan sumur dalam

Penutup

Dari paparan di atas dan melihat fakta bahwa GGF telah berkembang menjadi perusahaan global yang berkelanjutan menjadi jelaslah pada model ekonomi sirkular menjadi model bisnis di masa datang. Model ini menjadi jawaban atas berbagai masalah global, termasuk di dalamnya masalah lingkungan.

Dalam pandangan GGF, Waste is our new resource. Limbah bukan lagi bagian dari cost yang harus dibuang ke alam bebas, tetapi diolah,dimanfaatkan secara berkesinambungan. Limbah bisa menciptakan opportunity bisnis berikutnya.

Pengalaman GGF ini menyadarkan saya dalam melihat sungai Sampean yang mulai tercemar. Seandainya model ekonomi sirkular diterapkan di semua industri, termasuk industri rumahan, maka tidak ada lagi masalah pencemaran.

Anak cucu kita akan berterima kasih pada kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post