Bagaimana Teknik Wawancara Dan Penulisan Berita : Pelatihan Jurnalistik Pangan Sehat Di Tanoker Jember

Komunitas belajar Tanoker, Ledokombo, Kabupaten Jember mengundang kami untuk memberikan pelatihan jurnalistik Pangan Sehat. Ada 2 sesi pada acara tersebut, pertama mengenai pentingnya menulis dan kiat untuk bisa menulis secara konsisten. Kedua, mengenai teknik wawancara dalam jurnalistik.

Tulisan di bawah ini adalah materi mengenai wawancara tersebut. Isi tulisan didasarkan dari pengalaman.

Tanoker Ledokombo Jember
Baliho kegiatan di komunitas Tanker Ledokombo Jember

Pentingnya Akurasi Isi Tulisan

Karya jurnalistik ada banyak ragam medianya, baik tulisan, foto, audio ataupun video. Apapun bentuk media jurnalistik, ada satu kesamaan dari semuanya yaitu jurnalistik mengungkapkan FAKTA dan bukan OPINI. Fakta adalah hukum besi dari jurnalisme.

Untuk mengungkap fakta, sang jurnalis harus ada di tempat peristiwa. Fakta bisa direkam melalui foto, audio ataupun video. Sebagai contoh, peristiwa rumah terbakar atau kecelakan di jalan raya akibat tabrakan sepeda motor dengan bis, misalnya.

Melalui foto dan video, kita bisa mengabadikan peristiwa itu. Dan mengabarkan kalau di jalan Ahmad Yani pada hari Selasa tanggal 7 Juni pukul 10 pagi, misalnya, ada peristiwa kecelakaan. Namun, apakah peristiwa yang kita abadikan itu sebuah karya jurnalistik, ternyata TIDAK. Karena apa ? Karena yang kita kabarkan atau beritakan kurang lengkap atau TIDAK AKURAT.

Untuk memenuhi sebuah karya jurnalistik harus memiliki kelengkapan kriteria, yaitu jawaban atas pertanyaan : Apa (What) , Siapa (Who), Dimana (Where), Kapan (When), Mengapa (Why) dan Bagaimana (How), atau disingkat W5+1H. Kelengkapan faktor itu yang menentukan AKURASI berita. Akurasi berita yang nantinya menjadi dasar tumbuhnya KEPERCAYAAN publik atau masyarakat. Kepercayaan publik inilah yang menentukan REPUTASI media yang kita buat dan kembangkankan.

Akurasi –>  Kepercayaan –>Reputasi

Mengapa Harus Wawancara ?

Kita lihat pada 2 contoh kasus di atas :

  1. Kecelakaan sepeda motor dengan bis di jalan Ahmad Yani pada hari Selasa tanggal 7 Juni pukul 10 pagi
  2. Kebakaran rumah di jalan jalan Pelita pada hari Rabu tanggal 7 Juni  jam 10 malam

Kita lihat pada kasus 1 hanya memenuhi kriteria : Apa (kecelakaan sepeda motor dengan bis), Dimana ( di jalan Ahmad Yani), Kapan (hari Selasa tanggal 7 Juni jam 10 pagi). Jadi, kurang kriteria  = Siapa,  Bagaimana, Mengapa.

Lihat pada kasus 2, kriteria yang dipenuhi hanyalah = Apa (Kebakaran rumah), Dimana ( jalan jalan Pelita)  dan Kapan ( hari Rabu tanggal 7 Juni jam 10 malam )

Kasus 1 dan kasus 2 ternyata kurang kriteria : Siapa, Bagaimana dan Mengapa.

Taruh saja, misakan kita mengenal bahwa pengendara sepeda motor adalah teman kita yang bernama Harun, atau pemilik rumah adalah tetangga kita bernama Yana, tetap ada informasi yang tidak kita ketahui yaitu Bagaimana persisnya peristiwa tabrakan terjadi. Apakah sepeda motor yang menabrak bis, atau sebaliknya. Ada apa penyebab terjadinya tabrakan ? Ada beberapa pertanyaan yang butuh jawaban.

Demikian juga dengan peristiwa kebakaran rumah. Apa yang menyebabkan ? Berapa kerugiannya ?

Nah, pertanyaan yang belum terjawab itu, mau tidak mau mengharuskan adanya : WAWANCARA. Lantas, siapa yang HARUS diwawancarai ?

Siapa Yang Harus Diwawancarai ?

Tentunya yang harus diwawancarai adalah orang atau pihak yang memiliki “kelayakan” untuk diwawancarai. Kriteria layak atau tidaknya ditentukan oleh adanya hubungan langsung dengan peristiwa berita, kredibilitas atau kepakaran yang berhubungan dengan materi berita dan kewenangan.

Contoh pada kasus yang :

Pertama yaitu kecelakaan di sepeda motor dengan bis : Siapa saja yang harus diwawancarai untuk menjawab pertanyaan  = Siapa,  Bagaimana, Mengapa.

  1. Saksi mata
  2. Kepolisian ( polisi yang menangani )
  3. ……………………….
  4. ……………………….
  5. ……………………….

Kedua, yaitu kebakaran rumah. Yang harus diwawancarai untuk menjawab pertanyaan : Siapa, Bagaimana dan Mengapa.

  1. Saksi mata
  2. Pemilik rumah
  3. ……………………….
  4. ……………………….
  5. ……………………….

Catatan :

Kekeliruan kita dalam menentukan pihak yang harus diwawancarai akan membuat nilai berita tidak akurat dan tidak dipercaya.

Persiapan  Wawancara

Apa saja yang harus dipersiapkan sebelum kita terjun ke lapangan untuk mewawancarai orang atau pihak yang kita butuhkan.

  1. Tentukan lebih dahulu topik dan lalu buat kerangka pertanyaan wawancara
  2. Tentukan Pihak yang akan diwawancarai
  3. Alat untuk merekam hasil wawancara : alat tulis ataukah handphone ataukah kamera
  4. Buat janji untuk mewawancarai

Dalam banyak kasus, misalkan, melakukan peliputan mendadak karena kejadian insidentil seperti contoh kasus di atas yaitu tabrakan antara sepeda motor dengan bus atau kebakaran rumah, menuntut kita membuat keputusan cepat ( dimana kerangka materi liputan sudah ada dalam benak pikiran) , siapa yang akan diwawancarai, apa pertanyaannya dan tidak perlu buat janji (kecuali diperlukan). Mendadak atau tidak liputan yang dibuat, ada  satu hal yang tetap harus ada dari reporter yaitu ALAT untuk mengabadikan hasil wawancara.

Peralatan untuk wawancara
Persiapkan perlengkapan untuk melakukan wawancara

Teknik  Wawancara

Ada banyak jenis teknik wawancara. Apapun teknik yang dipilih, satu hal yang harus dipegang teguh adalah wawancara untuk menggali informasi yang ‘ jujur ’. Kita bisa memilih berbicara informal bertatap muka sambil ngopi, atau melalui wawancara tertulis baik email, media sosial ataupun melalui lembar kertas, atau melalui call by phone.

Prinsip lain yang perlu dipegang oleh reporter adalah narasumber yang kita wawancarai dalam kondisi yang sadar, tidak kalut, tidak tertekan, tidak emosional, dan tidak tertekan oleh pertanyaan kita, kecuali narasumber yang memiliki otoritas yang berhubungan dengan kepentingan publik.

Contoh narasumber yang tidak patut diwawancarai dalam kondisi emosional adalah korban perampokan atau korban pemerkosaan, dengan pertanyaan “ Bagaimana perasaan Anda ketika mengalami hal ini ?

Contoh pertanyaan yang patut meskipun menekan narasumber karena berhubungan dengan kepentingan publik ,”  Dari informasi yang saya dapatkan di desa Penanjakan, ternyata beras raskin yang diterima penduduk sudah dalam kondisi rusak. Bagaimana pendapat Bapak ? “ ( Pertanyaan yang ditujukan ke pejabat terkait, apakah Bulog atau Pemerintah Daerah).

Prinsip lain yang harus dipegang adalah jika narasumber mengatakan off the record artinya bagian yang off the record tersebut tidak untuk diberitakan, hanya konsumsi terbatas.

Demikian, secara umum teknik wawancara dalam jurnalistik.

Leave a Reply

error: Content is protected !!