Menata Buku Di Perpustakaan Keluarga Rumah Buku Bunda, Menggali Lagi Keasyikan Membaca Buku

Perpustakaan Keluarga adalah dunia yang perlu dirawat, dinikmati dan dimaknai ulang, seperti halnya aktifitas membaca kita. Rutinitas kerja dan waktu yang sepertinya selalu berlari ( kok makin cepat aja berlalu, kemaren lebaran eh sebentar lagi sudah lebaran ) membuat aktifitas membaca buku seperti kemewahan. Feeling saya, tidak banyak orang dengan tanggungan kerja mencari nafkah sekarang ini memiliki kenikmatan membaca buku seperti halnya dulu waktu anak – anak dan remaja.

Coba kita ingat, sewaktu kita anak – anak dan remaja, membaca cerita di majalah Bobo, Hai, Gadis, dan novel remaja seperti Trio Detektif dan komik Donald Bebek, kita sudah hanyut dalam cerita. Berimajinasi dalam alam sana, dan melupakan sejenak beban hidup, ciee.. Hanyut dalam cerita dan imajinasi kita berkembang adalah sebentuk kemewahan yang tanpa kita sadari menumbuhkembangkan kepekaan kita.

Mengelompokkan buku menurut subyeknya
Mengelompokkan buku menurut subyeknya memiliki fungsi memudahkan mencari buku

Kemewahan itu, kami coba hadirkan lagi di perpustakaan keluarga Rumah Buku Bunda. Cara sederhanyanya adalah menata lagi buku – buku sehingga terlihat rapi. Mengelompokkan menurut subyeknya sehingga mudah dicari. Harapannya, ketika anak – anak melihat buku berjajar berderet itu, mereka berminat membaca, meskipun dimulai bukunya hanya dipegang – pegang saja.

Perpustakaan Keluarga Sebagai …

Kami menamainya Rumah Buku Bunda. Koleksinya sih belum banyak dalam kisaran 1000 an. Sebagian sudah kami tata lebih rapi, sebagian masih di kardus. Ada buku yang sangat serius seperti filsafat dan textbook dan komik anak – anak. Sepertinya komik ini mendominasi koleksi yang ada karena berada dalam 1 lemari sendiri :D. Di bawah komik, peringkat di bawahnya adalah novel dan cerita bergambar. (hmmm, sepertinya bacaan – bacaan yang ringan di Rumah Buku Bunda ini).  Eit, tunggu dulu, di sini juga ada majalah National Geographic dan videonya. Ada kisaran 50 an buah. Koleksi yang berat adalah filsafat, dan text book dengan tebal beratus – ratus halaman.

Koleksi buku di perpustakaan kami ini didapat dari pembelian di toko buku, pembelian online, pembelian ke teman, bazaar buku dan mencari di pasar loak. Di Bondowoso tidak ada pasar loak buku, karenanya Jember-lah menjadi tempat rujukan. Lokasinya di belakang Super Market Matahari Jember. Ada juga buku dan majalah yang dari luar negeri. (Kita bisa mencarinya lewat google buku dan majalah apa saja yang bisa kita peroleh secara gratis ).

Koleksi buku dan majalah yang ada sebagian besar adalah buku kekinian. Ada juga buku dan majalah jadul warisan dari orang tua cetakan tahun 70 an n 80 an, dan buku cetakan dengan tahun lama lagi yang dibeli di pasar loak tahun cetakan 50 an. Salah satu koleksi yang menarik adalah laporan utama Majalah National Geographic tahun 1970, tepat setahun setelah pendaratan manusia pertama kali di Bulan. Edisi yang terhitung ‘langka’ ini dibeli dengan harga 20 ribu. 😀

Koleksi buku di rumah buku Bunda
Koleksi buku yang serius dikelompokkan menjadi satu tempat seperti Majalah National Geographic dan text book

Terlepas dari jumlah koleksi buku yang kita miliki, pertanyaan yang perlu diajukan adalah kita memposisikan perpustakaan keluarga sebagai apa ? Visi kami, perpustakaan keluarga menjadi pusat aktifitas keluarga, bertemu dan beraktifitas di sini. Secara teknis, jika rumah kita luas, perpustakaan keluarga ini berada di area yang paling banyak di lewati dan berkumpul. Tanpa disadari bahwa melihat buku yang berjajar akan mendorong kita untuk menyukainya, memegang dan membaca.

Di perpustakaan keluarga inilah semua anggota keluarga sama – sama belajar.

Membaca Semua Jenis Buku, Mengapa Sangat Penting ?

Tidak semua orang meminati dan menyenangi semua hal. Koleksi buku atau jenis bacaan ini pastinya ditentukan oleh minat. Selain faktor waktu yang terbatas, faktor lain yang membuat kita untuk menyeleksi jenis bacaan kita adalah bahwa membaca juga membutuhkan mood yang baik. Dan mood ini ditentukan oleh minat kan.

Lantas, mengapa kita harus dipaksa membaca semua jenis buku, sedangkan kita tidak menaruh minat pada semuanya ?. Untuk anak – anak, okelah, pada tahap awal difasilitasi jenis bacaan yang menjadi minatnya. Seiring bertambah  usia anak dan bertambah minat bacaannya, maka tugas orang tua hanyalah memfasilitasi. Toh, nantinya secara natural anak akan memiliki minat pada bacaan tertentu saja, seperti halnya kita.

Koleksi buku Rumah Buku Bunda
Menumbuhkan minat baca dengan memfasilitasi jenis bacaan yang disukai, lalu dikembangkan.

Nah, kembali ke kita, setelah kita memiliki minat pada bacaan tertentu, mengapa tetap harus dipaksa untuk membaca semua jenis bacaan ? Emang enak, memaksakan diri ? Jelas tidak enak. Tetapi ini penting.

Beberapa alasan mengapa pada diri kita untuk memaksa membaca semua jenis literasi adalah :

  • Kita akan memiliki khasanah pengetahuan yang luas sehingga ketika menilai dan berpendapat terhadap sesuatu, kita bisa melihatnya dalam banyak perspektif atau sudut pandang
  • Penalaran kita menjadi lebih tajam dan luwes karena semua jenis bacaan dan disiplin ilmu termasuk bacaan yang remeh temen memiliki ke-khas-an sendiri.
  • Yang terpenting menurut saya adalah kita memiliki toleransi terhadap perbedaan karena sudah terbiasa membaca dalam banyak sudut pandang. Tidak mudah mem-vonis sebuah pendapat sebagai pendapat benar ataupun salah.

Perpustakaan Keluarga Sebagai “ Ruang Belajar “

Menegaskan apa yang sudah ditulis di atas maka perpustakaan keluarga adalah ruang belajar, bukan hanya sekedar tempat membaca saja, apalagi tempat memajang koleksi buku dan majalah saja.

Sebagai sebuah “ ruang “ maka apapun bisa dilakukan sejauh mungkin berhubungan dengan pengertian ‘belajar’ itu sendiri. Mulai membaca, mengutarakan pendapat, menggambar, menulis, menceritakan isi bacaan, meneliti, dan sebagainya. Luas dan sempitnya pengertian ‘ ruang belajar ‘ tersebut ditentukan oleh kreatifitas kita didalam meng-eksplorasi dari buku dan perpustakaan. Ini adalah proses yang terus dan tidak pernah final, seperti halnya isi buku, bukanlah isi yang final tentang suatu hal.

Proses  yang dimulai dengan belajar membaca menjadi kegiatan yang mengasyikkan terus – menerus.

Leave a Reply

error: Content is protected !!